Batang – teraspanturanews.com Suasana ruang kelas di berbagai SMP di Kabupaten Batang tampak berbeda pekan ini. Bukan sekadar rutinitas belajar biasa, para siswa kini tengah menempuh Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Di balik layar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang telah memasang “kuda-kuda” kuat guna memastikan transisi evaluasi pendidikan ini berjalan mulus tanpa riak teknis.
Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoto Sudibyo menegaskan, bahwa seluruh aspek, mulai dari infrastruktur digital hingga kesiapan mental SDM, telah mencapai titik optimal.
“Alhamdulillah, persiapan sudah siap, baik sarana prasarana maupun SDM yang akan menangani pelaksanaan TKA,” katanya saat ditemui di Kantornya, Kamis (9/4/2026).
Pelaksanaan TKA tahun ini dilakukan secara estafet untuk menjaga stabilitas sistem dan menyesuaikan fasilitas sekolah. Jenjang SMP: 6 hingga 16 April 2026, sedangkan Jenjang SD: 20 hingga 30 April 2026.
Bambang menjelaskan, bahwa durasi pelaksanaan yang cukup panjang ini merupakan strategi adaptif. Mengingat belum semua sekolah memiliki jumlah perangkat komputer yang ideal, sistem bergiliran (shift) menjadi solusi agar seluruh siswa tetap bisa ikut serta tanpa terkecuali.
“Salah satu tantangan besar di Kabupaten Batang adalah kondisi geografis. Belajar dari kendala jaringan saat try out lalu, Disdikbud bergerak cepat melakukan penyisiran sinyal hingga ke wilayah pelosok dan pegunungan,” jelasnya.
Bambang menyebutkan, sudah cek satu per satu, aman. Bahkan daerah pegunungan pun sudah terjangkau, baik menggunakan Telkomsel maupun Indosat. Langkah antisipasi ini diambil agar tidak ada lagi gangguan teknis yang menghambat konsentrasi siswa saat menjawab soal.
“TKA 2026 bukan sekadar formalitas. Hasil ujian ini akan menjadi penentu masa depan siswa untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya. Pemerintah menetapkan bobot nilai yang seimbang: 60 persen dari nilai TKA dan 40 persen dari nilai rapor,” terangnya.
Kebijakan ini dirancang sebagai masa transisi agar siswa mulai terbiasa kembali dengan standar evaluasi yang kompetitif, namun tetap menghargai proses belajar mereka selama di sekolah.
Menariknya, Disdikbud Batang tidak ingin TKA menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak. Bambang memberikan instruksi khusus kepada para tenaga pendidik untuk menjaga psikologis siswa.
“Laksanakan TKA dengan jujur dan menyenangkan. Anak-anak harus mengerjakan sendiri, tanpa bantuan. Jangan sampai anak-anak terbebani, justru harus dibuat senang agar mereka bisa mengerjakan dengan maksimal,” pungkasnya.
Melalui pendekatan yang humanis dan jujur, Pemkab Batang berharap TKA 2026 tidak hanya menghasilkan angka-angka tinggi di atas kertas, tetapi juga mencerminkan karakter siswa yang berintegritas dan siap bersaing secara objektif. (AS Saeful Husna Kabiro Batang, Jateng)
Salam Teras Pantura







