Batang – teraspanturanews.com Kabupaten Batang bersiap menghelat pesta rakyat yang tak biasa. Memperingati hari jadinya Ke-60, tradisi Kirab Budaya tahun ini tampil lebih kolosal dan sakral, membawa atmosfer keagungan Kasultanan Yogyakarta ke tanah Batang.
Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo mengungkapkan, bahwa perubahan mencolok terletak pada estetika visual para peserta. Jika tahun-tahun sebelumnya tampil dengan gaya umum, kali ini detail busana dan properti akan merujuk pada pakem keraton.
“Yang beda mungkin dari sisi pakaian, kita berubah dengan yang kemarin-kemarin. Mungkin kita menuju ke arah Kasultanan Jogja,” katanya saat ditemui di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (12/4/2026).
Kesungguhan panitia dalam menghidupkan nuansa kerajaan tidak main-main. Sebuah kereta kencana khusus didatangkan langsung dari Solo untuk menambah kemegahan iring-iringan.
“Lautan manusia diprediksi akan memadati rute kirab. Sebanyak 86 kelompok dengan total lebih dari 1.600 peserta siap berparade. Menariknya, barisan ini tidak hanya diisi oleh jajaran birokrasi, tetapi juga merangkul siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), tokoh masyarakat, hingga para mantan Bupati Batang,” jelasnya.
Kalau 20 kali 85 berarti 1.600-an. Itu bisa lebih, karena kita batasi 20 tapi ada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mungkin mengirim lebih dari 20. Di balik kemeriahan ini, terselip doa dan harapan besar yang dirangkum dalam tema Batang Gumregah, Rahayu Barokah, Datan Kantun Budaya Luhung, Kuncara Hanjayeng Bawana.
“Maknanya bahwa Batang berharap barokah dengan adanya budaya yang luhur ini, sehingga menjadi bersinar di dunia. Untuk Batang jadi terkenal, intinya begitu,” tegasnya.
Bambang menegaskan, bahwa kirab ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat bagi generasi muda agar tetap membumi pada sejarahnya.
“Artinya dengan kirab budaya ini marilah kita nguri-nguri budaya yang ada, mengingat pejuang-pejuang yang mendirikan Batang. Simbol kemakmuran atau loh jinawi akan hadir melalui 17 gunungan hasil bumi. Sebanyak 15 gunungan merupakan perwakilan dari tiap kecamatan, sementara dua lainnya berasal dari Pemerintah Daerah,” terangnya.
Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, panitia telah menyiapkan skenario agar pembagian hasil bumi ini berlangsung tertib tanpa insiden rebutan yang membahayakan.
“Setelah kirab selesai, bukan direbutkan, tetapi akan kita serahkan ke masyarakat. Gunungan yang kita pisah ada tujuh. Yang tidak ikut kirab, yang lainnya dikirabkan. Artinya, pada saat upacara selesai masih ada gunungan yang bisa dibagikan ke masyarakat,” imbuhnya.
Satu lagi yang paling dinanti warga adalah tradisi sebar koin atau sawur. Panitia menyiapkan dana sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta untuk dibagikan sepanjang rute. Bahkan, peserta yang berada di atas kereta kencana pun diperbolehkan melakukan sawur secara pribadi.
Sebagai penutup rangkaian HUT yang istimewa ini, publik Batang berpeluang menyaksikan kehadiran sosok penting dari Yogyakarta.
“Rencananya kalau jadi ada sarasehan yang akan dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono. Cuma tanggalnya kita menunggu kepastian dari Jogja,” pungkasnya. (Aas Saeful Husna Kabiro Batang, Jateng)
Salam Teras Pantura







