Batang – teraspanturanews.com Untuk menjadi tamu Allah saat ini membutuhkan waktu tunggu hingga belasan bahkan puluhan tahun. Melihat masa tunggu yang luar biasa lama, maka kesempatan emas itu dimanfaatkan para jemaah untuk datang lebih awal, sebelum diterbangkan ke Kota Suci Mekah Al Mukaromah, dengan membawa segudang doa dan harapan.
Salah satunya pasangan suami-istri, Abdul Mulyo dan Nani Sumarni dari Kauman sengaja datang lebih pagi ke area Pendopo sebagai wujud syukur mendapat kesempatan menjadi tamu Allah. Bagi keduanya, menjadi tamu Allah tidaklah mudah karena selain memerlukan kesiapan finansial yang cukup, kesehatan dan Ridha-Nya adalah kunci utama.
“Sudah nunggu lama, sampai 13 tahun, masak datangnya telat. Ini bukti semangat kami untuk bertamu ke Rumah Allah, jadi bawaannya udah ga sabar pingin segera sampai,” katanya saat ditemui di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Sabtu (25/4/2026).
Selain kesiapan fisik dengan rutin beraktivitas fisik seperti jalan kaki, mental juga menjadi hal terpenting karena niat utamanya adalah beribadah.
“Kalau udah sampai sana pasti sujud syukur karena sudah diberi kesempatan yang tidak semua orang bisa peroleh, karena ini sebuah keistimewaan yang Allah kasih, jangan disia-siakan,” tegasnya.
Kesempatan yang telah Allah berikan ini menjadi motivasi karena Insyaallah dapat menginjakkan kaki ke Tanah Suci.
“Ini kebahagiaan buat kami karena bisa beribadah haji langsung ke Mekah, semoga segala amal ibadah kita diterima, dan menjadi haji yang mabrur,” harapnya.
Lain halnya dengan Daenah 72 tahun, jemaah calon haji asal Batang yang sengaja menumpang becak dari kediamannya dan diantar oleh kedua putranya. Hal tersebut ia lakukan sebagai rasa syukur dan menghormati para tetangga yang sudi mengantar keberangkatannya hingga pendapa.
“Saya naik becak karena tetangga yang mengiringi banyak yang jalan kaki. Kepedulian mereka membuat saya semakin senang dan bersyukur bisa segera bertamu ke Baitullah,” ungkapnya.
Daenah yang setiap harinya berjualan sayur di Pasar Batang sengaja mengumpulkan rupiah demi rupiah hasil jualannya, hingga akhirnya berbuah manis dapat beribadah ke Tanah Suci.
“Karena suami sudah meninggal, akhirnya 2013 saya daftar sendiri dan hari ini alhamdulillah bisa beribadah haji,” tuturnya.
Meski berangkat tanpa suami, namun ia telah membawa segudang doa yang ingin dipanjatkan untuk pribadi maupun keluarga dan anak cucu.
“Doa saya di sana nanti buat anak cucu semua dimudahkan segala urusan dan bisa menyusul ke Baitullah,” harapnya.
Di sisi lain, ada pula keluarga yang sampai meneteskan air mata seakan tak ingin terpisah jarak yang jauh, selama 40 hari. Salah satunya, adik Aklan yang menangis sejadi-jadinya karena tak ingin berpisah dengan kedua kakek neneknya, Edi Sumarsono dan Dwi Narni.
Peristiwa tersebut terjadi menjelang keberangkatan para jemaah menuju Embarkasi Donohudan. Hampir seluruh pengiring maupun jemaah tak mampu menyeka air mata, seakan tak rela berpisah. (AS Saeful Husna TP Batang,)
Salam Teras Pantura









