Batang – teraspanturanews.com Ratusan santri dan alumni yang tergabung dalam Ikatan Santri Amtsilati Pekalongan–Batang (IKSAPBA) bersimpuh dalam satu majelis. Bukan sekadar temu kangen tahunan, gelaran Halal Bi Halal (HBH) ke-18 ini menjadi panggung penegasan bahwa metode cepat baca kitab kuning ini siap melintasi sekat-sekat negara.
Selama hampir dua dekade, IKSAPBA konsisten menjadi motor penggerak organisasi daerah di bawah naungan Amtsilati Pusat. Namun tahun ini, semangat yang diusung terasa lebih besar. Ada ambisi suci untuk membawa warisan literasi pesantren ini ke kancah global.
Ketua Korwil Amtsilati Jawa Tengah 3, Kyai M. Imam Muhajir, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya melihat antusiasme yang terus tumbuh. Baginya, pertumbuhan lembaga pengguna Amtsilati di wilayah Pekalongan dan Batang adalah sinyal positif bagi visi besar sang muallif, Romo KH. Taufiqul Hakim.
“Visi besar kita adalah satu miliar Amtsilati menuju Amtsilati mendunia. Dengan semangat ‘satu sanad, satu tekad’, kami optimis cita-cita itu bukan sekadar mimpi,” katanya saat ditemui di Pendopo KAbupaten Batang, Minggu (29/3/2026).
Ia berharap, konsistensi IKSAPBA selama 18 tahun terakhir menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap ilmu tidak akan lekang oleh waktu, justru akan semakin luas dampaknya bagi masyarakat.
Wakil Ketua Mutiara Ati (Himpunan Santri dan Alumni Nusantara Amtsilati) KH. Zaimudin Ahya mengatakan, sebagai salah satu lulusan terbaik pasca-Amtsilati perdana, ia mengingatkan bahwa santri masa kini tidak boleh hanya diam di zona nyaman.
Menurutnya, kecepatan metode Amtsilati yang mampu membuat santri membaca kitab kuning dalam waktu 3 hingga 6 bulan adalah “senjata” untuk menguasai dunia.
“Santri hari ini harus kreatif, inovatif, dan progresif. Kita meneladani Abah Taufiqul Hakim yang menghadirkan revolusi pembelajaran. Jika urusan agama bisa dikuasai lebih cepat, maka santri punya waktu lebih banyak untuk mendalami sains, teknologi, hingga kedokteran,” tegasnya.
Ia membayangkan lahirnya generasi “Ulama Ensiklopedik” sosok yang tidak hanya fasih berdalil fikih, tapi juga unggul dalam ilmu modern. Inilah yang diyakininya sebagai kunci kebangkitan peradaban Islam di masa depan.
Acara yang berlangsung khidmat ini juga diwarnai dengan napak tilas sejarah perjalanan Amtsilati. Para peserta diajak menengok kembali masa-masa awal perjuangan menyebarkan metode yang kini telah mengubah wajah pendidikan pesantren di Indonesia tersebut.
Sementara itu, Ketua IKSAPBA M. Syafiq Qomaruzzaman, menutup rangkaian acara dengan apresiasi mendalam bagi seluruh panitia dan tokoh yang hadir. Ia melihat HBH ke-18 ini sebagai batu loncatan untuk manfaat yang lebih luas.
“Ini bukan sekadar rutinitas atau seremonial. Ini adalah ruang untuk memperkuat nilai perjuangan kita. Ke depan, jangkauan kita harus lebih luas lagi,” ujar dia.
Di tengah arus zaman yang serba digital, santri-santri Amtsilati dari Pekalongan dan Batang ini seolah mengirimkan pesan kuat bahwa tradisi kitab kuning tidak akan mati, ia justru sedang bersiap untuk mewarnai peradaban dunia. (AS Saeful Husna Kabiro Batang, Jateng)
Salam Teras Pantura








