Batang – teraspanturanews.com Peringatan Hari Kembalinya Kabupaten Batang Ke-60 digelar meriah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk ahli waris Tombak Pusaka Kyai Abirawa beserta pengiringnya. Keberadaannya tak bisa dilepaskan dari kelanggengan pemerintahan Kadipaten Batang sejak era Mataram Islam, bahkan saat gelaran Malam Satu Sura yang penuh Kesakralan.
Meski Tombak Pusaka Kyai Abirawa kini disemayamkan di Gedong Pusaka, Kabupaten Batang, namun di hari-hari khusus tetap diarak dan dikawal langsung oleh ahli warisnya.
Raden Susanto Waluyo yang kini menjadi pewaris Tombak Pusaka Kyai Abirawa membenarkan peran tombak pusaka tersebut tak dapat dipisahkan dari tiap upacara adat yang digelar Pemerintah Kabupaten Batang.
“Kami bersama para kru sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak beberapa hari yang lalu. Termasuk menyiapkan pusaka-pusaka yang akan turut dikirab, di antaranya Tombak Pusaka Kyai Abirawa, Keris Piandel Adipati Batang 1, Payung Tunggul Pangayom dan tombak pengiring lainnya,” katanya, saat ditemui di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (12/4/2026).
Tidak ada ritual khusus untuk mengiringi peringatan Hari Kembalinya Kabupaten Batang ke-60, hanya saja perlu “ubo rampe” lengkap. Termasuk jumlah dan jenis pusaka yang turut dikirab selama prosesi berlangsung.
“Keikutsertaan Tombak Pusaka Kyai Abirawa ini sebagai wujud ikut merasakan kebahagiaan di Hari Kembalinya Kabupaten Batang Ke-60. Sedangkan makna Batang Gumregah Hanggayuh Barokah, Datan Katun Budaya Luhung Kuncara Hanjayeng Bawana, agar Kabupaten Batang menjadi semakin maju dan terkenal ke seluruh penjuru dunia,” jelasnya.
Kebahagiaan atas gelaran kirab tersebut pun ditunjukkan oleh para peserta kirab lainnya, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah maupun masyarakat umum. Beragam kostum berkarakter unik pun ditunjukkan sebagai wujud rasa memiliki Kabupaten Batang.
Salah satu kostum unik yang cukup memukau yakni karakter Dewi Laras, yang dikenakan oleh neko rossa regeta dari Bank Jateng Cabang Batang. Ia merasa bangga dapat mengenakan kostum karakter tersebut dan berkontribusi dalam memeriahkan kirab budaya Batang.
“Saya mengenakan kostum Dewi Laras, sosok penguasa Alas Roban yang menceritakan hutan di sepanjang jalur Pantura Batang dengan aura penuh mistik,” ungkapnya.
Respons positif lain pun datang dari Sekretaris Diskominfo, Puji Setyowati saat mendampingi jajarannya dengan menampilkan karakter dalang beserta wayang kulit untuk memperkuat karakter. Pesan moral yang dibawa adalah masyarakat Kabupaten Batang tetap melestarikan budaya wayang kulit yang penuh akan falsafah kehidupan manusia.
“Semoga di Hari Kembalinya Kabupaten Batang Ke-60, membawa masyarakatnya semakin maju, sejahtera dan bahagia. Dan karena ini temanya uri-uri budaya wayang, ya kita manut saja sama dalangnya,” ujar dia. (AS Saeful Husna Kabiro Batang, Jateng)
Salam Teras Pantura







