Surabaya,—teraspanturanews.com Nama Menachem Ali mungkin belum begitu dikenal luas, namun perjalanan hidupnya menyimpan kisah inspiratif tentang pencarian kebenaran yang dilandasi kedalaman intelektual dan keteguhan hati. Sebagai seorang pakar filologi yang terbiasa menelaah naskah-naskah kuno, ia mengalami titik balik besar dalam hidupnya ketika memutuskan memeluk Islam pada Agustus 2005, setelah melalui proses panjang pencarian spiritual. Surabaya, 8 April 2026
Lahir di Gresik, Jawa Timur, Ali telah menunjukkan kecerdasan akademik sejak muda. Ia menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, dengan fokus pada Filologi dan Sastra Indonesia. Karier akademiknya pun berkembang hingga menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya. Keahliannya mencakup berbagai bahasa, seperti Ibrani, Arab, Yunani, Inggris, Prancis, Latin, Sanskerta, hingga Madura, yang membantunya mendalami teks-teks keagamaan dan manuskrip kuno secara komprehensif.
Dalam perjalanannya, Ali aktif terlibat dalam diskusi lintas agama. Salah satu momen penting terjadi saat ia berdebat dengan KH Abdullah Wasian mengenai isu-isu teologis. Meski saat itu belum memeluk Islam, pengalaman tersebut memicu refleksi mendalam dan mendorongnya untuk terus mengkaji ajaran yang ia yakini. Ia mulai menemukan berbagai pertanyaan mendasar, termasuk terkait perbedaan jumlah kitab dalam tradisi yang dianutnya saat itu.
Sebagai seorang filolog, Ali memandang filologi sebagai “pisau” untuk meracik dan mengurai makna dalam teks. Ia menegaskan bahwa bahasa tidak pernah bebas nilai, melainkan selalu terikat dengan aspek sosial, budaya, politik, dan kewilayahan. Bahasa juga menjadi penanda identitas, namun pada saat yang sama tidak memiliki agama. Karena itu, seorang filolog dituntut memahami secara mendalam data dan dokumen yang diteliti. Untuk memperoleh data yang valid, diperlukan usaha besar, termasuk melakukan kunjungan dan penelitian ke berbagai negara, yang tidak jarang membutuhkan biaya dan dedikasi tinggi.
Setelah melalui proses pemikiran yang matang dan perbandingan terhadap berbagai ajaran, Ali akhirnya menemukan keyakinan baru dalam Islam. Ia melihat Al-Qur’an sebagai kitab yang utuh dan konsisten, yang menjawab kegelisahan intelektualnya. Keputusan untuk menjadi mualaf bukanlah langkah instan, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang penuh pertimbangan ilmiah dan spiritual.
Dalam kehidupan bermasyarakat, Ali melihat adanya dua corak besar: masyarakat akademis berbasis riset dan masyarakat agamis yang cenderung berbasis doktrin emosional. Di titik inilah filolog berperan sebagai sarjana revisionis yang kerap berhadapan dengan kalangan tradisionalis. Oleh karena itu, menurutnya, filologi menuntut penguasaan ilmu ortografi serta kelengkapan data fisik, mulai dari transkrip kuno, modern, hingga kontemporer. Ia juga menyampaikan bahwa koleksi perpustakaan pribadinya sangat lengkap, mencakup Al-Qur’an dalam berbagai terjemahan dan bahasa—seperti Jawa, Ibrani, Semit, hingga versi Arab tanpa harakat—yang menjadi rujukan penting dalam kajian ilmiahnya.
Wawasan tersebut terungkap dalam dialog ringan namun mendalam bersama jurnalis AS Saeful Husna dari teraspanturanews.com, yang berlangsung pada Rabu, 8 April 2026, di kediaman beliau di Perumahan Dosen UNAIR, Jalan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Percakapan berlangsung hangat dan penuh perspektif baru, menggali sisi intelektual sekaligus spiritual Prof. Menachem Ali dalam melihat relasi antara ilmu, bahasa, dan keyakinan.
Pasca memeluk Islam, Muhammad Ali tetap melanjutkan kiprahnya sebagai akademisi sekaligus aktif berdakwah. Dengan latar belakang filologi, ia menyampaikan kajian keislaman melalui pendekatan ilmiah berbasis teks dan sejarah. Ia juga sering terlibat dalam forum keagamaan dan memberikan pemahaman yang rasional serta mendalam kepada masyarakat.
Keunikan Muhammad Ali terletak pada kemampuannya menggabungkan ilmu pengetahuan dengan dakwah. Ia tidak hanya berbicara dari sisi keimanan, tetapi juga menghadirkan analisis kritis terhadap naskah dan sejarah agama. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa pencarian kebenaran adalah perjalanan yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
Perjalanan Menachem Ali menjadi pengingat bahwa kejujuran intelektual, keberanian, dan ketekunan dapat mengantarkan seseorang pada hidayah. Dari seorang akademisi yang mendalami tradisi non-Islam, ia kini menjadi sosok pendakwah yang menginspirasi, membawa manfaat melalui perpaduan ilmu dan spiritualitas.( AS Saeful Husna Kabiro Batang Jateng)
Salam Teras Pantura










