Batang-teraspanturanews.com Ahad, 21 Desember 2025, suasana Kedung Kali Lojahan di wilayah Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tampak berbeda. Di tengah aliran sungai yang tenang dan udara musim penghujan yang sejuk, sebuah peristiwa penuh makna kembali digelar oleh Yayasan Bangun Pemuda Indonesia (YBPI). Bukan seremoni besar, melainkan laku sunyi yang sarat nilai: menebar kurang lebih 1.500 benih ikan nila sebagai wujud bakti kepada bumi.
Kegiatan ini merupakan buah dari sinergi nyata antara YBPI, para pegiat lingkungan, penambang pasir tradisional, serta putra-putri binaan lembaga. Mereka berkumpul dalam satu tujuan yang sama, yakni menjaga sungai sebagai sumber kehidupan. Mengusung tema utama “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan”, kegiatan ini telah menjadi tradisi lembaga menjelang pergantian tahun. Musim penghujan dipilih dengan penuh perhitungan, agar suhu air berada dalam kondisi normal dan mendukung keberlangsungan hidup benih ikan yang dilepas.
Tahun 2025 ini menandai pelaksanaan ke-6 kegiatan berkelanjutan tersebut. Sebuah konsistensi yang lahir bukan dari kewajiban, melainkan dari panggilan nurani. YBPI meyakini bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar agenda sesaat, melainkan ikhtiar panjang yang harus dirawat dengan kesadaran kolektif.
Keunikan kegiatan ini terletak pada keterlibatan anak-anak binaan. Mereka memegang lembaran kertas bertuliskan pesan-pesan yang menggugah nurani, seperti: “Buang Sampah ke Sungai Musuh Kemanusiaan”, “Bumi Hanya Satu Ayo Rawat Bersama-sama”, “Merusak Alam = Dosa Besar”, “Aku Takut Bencana di Mana-mana”, “Sungai Bersih Hidup Sehat”, “Sungai Cermin Kehidupan”, hingga “Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan”. Setiap anak diminta mendefinisikan sendiri makna dari kalimat yang mereka pegang. Dari proses sederhana ini, benih kecerdasan ekologis dan kepekaan kemanusiaan ditanamkan sejak dini.
Aji, salah satu pegiat lingkungan yang turut membersamai kegiatan, menyampaikan apresiasinya kepada YBPI. Menurutnya, kegiatan semacam ini mustahil terlaksana tanpa kesadaran dan keterpanggilan jiwa. Ia menyoroti paradoks sikap manusia terhadap alam: di satu sisi banyak yang berlomba mengeksploitasi potensi alam hingga memicu bencana, sementara di sisi lain sekelompok masyarakat kecil justru hadir dengan penuh suka cita untuk merawat sungai.
“Jangan pernah menyepelekan hal kecil,” tegas Aji. “Justru dari hal-hal kecil inilah dampak besar bagi keberlanjutan kehidupan masa depan lahir.”
Aji juga menilai kegiatan ini sarat nilai cinta tanah air. Bendera Merah Putih yang hadir bukan sekadar pajangan, melainkan spirit yang nyata mengiringi setiap langkah. Ia berharap kebersamaan ini terus terjalin dan berkomitmen melaporkan kegiatan tersebut kepada Lurah Wonotunggal sebagai contoh praktik baik kepedulian warga terhadap lingkungan.
Senada dengan itu, Tarsup, perwakilan penambang pasir tradisional yang sehari-hari menggantungkan hidup dari endapan pasir di sekitar Jembatan Sendang, mengungkapkan rasa harunya. Menebar ikan ke sungai adalah pengalaman pertamanya.
“Setiap hari saya bekerja di sini. Sungai ini sumber rezeki saya. Jadi ketika ada yang ikut merawat sungai, saya sebagai orang sungai merasa sangat senang,” ujarnya lirih saat sesi makan lesehan bersama.
Dari sisi anak binaan, Bening tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Dengan tutur polos ia berkata bangga karena diajak turun langsung ke sungai dan melepas ikan. Kebanggaan sederhana, namun menyimpan makna besar bagi tumbuhnya rasa cinta lingkungan.
Harapan besar dari kegiatan ini adalah agar spirit menanam kesadaran dan menumbuhkan kemanusiaan terus bergulir, merasuk ke setiap pribadi anak bangsa. Dari sungai kecil di Wonotunggal, YBPI menyalakan harapan akan lahirnya dunia yang saling menjaga—manusia yang tidak hanya mengambil dari alam, tetapi juga merawat dan memuliakannya. ( AS Saeful Husna Kabiro Batang Jateng)
Salam Teras Pantura

















