Batang – teraspanturanews.com Mendekati peringatan hari kembalinya Kabupaten Batang dari Kabupaten Pekalongan (hari jadi) Ke-60, komplek Makam Astana Pasekaran mulai dipersiapkan oleh juru kunci, untuk menyambut kehadiran pemangku kebijakan berziarah ke para leluhur. Dialah Suparno yang mendapat amanat mengurus segala sesuatu terkait makam para adipati yang telah ada sejak era Mataram Islam.
Sejak tujuh tahun lalu, ia diamanati menggantikan ayahandanya yang telah wafat untuk meneruskan tugas mengurus komplek Makam Astana Pasekaran yang telah ada sejak tahun 1600-an.
“Tidak ada wejangan apapun dari mendiang bapak (Nur Khasan) pokoknya, jadi juru kunci di sini sudah turun-menurun sejak simbah (Mbah Muchari),” katanya, saat ditemui di samping pusara Makam Adipati Batang, KRT. Soero Hadiningrat (Pangeran Sedarawuh), Kabupaten Batang, Senin (6/4/2026).
Setiap harinya ia secara istiqomah membersihkan setiap sudut di area Makam Astana Pasekaran mulai dari menyapu halaman komplek hingga membersihkan makam para adipati. Khususnya yang menjadi fokus para peziarah, ada beberapa pusara yang sering dikunjungi dan menjadi tempat berdoa kepada Allah serta meneladani perjuangan pendiri Kadipaten Batang.
“Tidak ada waktu khusus atau hari pantangan untuk berziarah ke sini, semua boleh dan buka 24 jam. Hampir setiap harinya ada yang berziarah, bahkan banyak pula dari luar kota, seperti kemarin dari Surabaya, ada pula beberapa tahun lalu kerabat Keraton Kasultanan Yogyakarta yang berziarah ke Makam Adipati Toemenggung Poespo Negoro,” jelasnya.
Sebagai juru kunci, ia pun tak bosan-bosannya mengingatkan generasi muda untuk senantiasa menghormati dan menghargai perjuangan para pendiri Kabupaten Batang.
“Generasi muda harus meneruskan kebiasaan para sesepuh dengan menziarahi pendiri Kabupaten Batang, untuk mengingat kemajuan saat ini berawal dari perjuangan para adipati sejak ratusan tahun lalu,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia pun mengharap agar infrastruktur di area komplek Makam Astana Pasekaran perlu dilakukan perbaikan.
“Ada beberapa cungkup makam yang perlu direnovasi, contohnya di makam Adipati Raden Toemenggung Tjokrodjojo, yang harus dilakukan perbaikan, lantai, atap dinding sudah rusak,” terangnya.
Yang tak kalah pentingnya lampu penerangan yang masih harus ditambahkan di beberapa titik. Hal ini untuk memudahkan para peziarah yang seringkali berkunjung saat malam hari dari berbagai wilayah.
Ditemui secara terpisah, pemerhati sejarah Batang, Sodikin membenarkan betapa penting dan sakralnya makam tersebut karena di dalamnya dimakamkan para adipati sejak 1614. Di dalamnya dimakamkan KRT Soero Hadinigrat (Pengeran Sedarawuh), Kandjeng Pangeran Ario Soero Adiningrat, Toemenggoeng Poespo Negoro, Raden Toemenggoeng Tjokrodjojo, KR Adipati Ario Soerjo Diningrat.
“Tak hanya itu, bahkan ada pula Adipati Batang Tumenggung Upasanta yang dimakamkan di daerah Depok Jawa Barat saat melawan VOC di Batavia. Adapula peran Ratu Batang yang sempat memimpin sementara di Kadipaten Batang sebelum menjadi istri dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang dimakamkan di Imogiri Yogyakarta,” ujar dia.
Masih banyak sejarah yang perlu dibedah untuk mengetahui siapa saja yang dinamakamkan di sana sejak 1614.
“Saat ini tim pengkaji sejarah Batang masih terus menelusuri bukti-bukti otentik bahkan berencana mengulik dokumen yang tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda,” tandasnya. (AS Saeful Husna Kabiro Batang, Jateng)
Salam Teras Pantura








