Pekalongan— teraspanturanews.com Yayasan Surya Alam Indonesia (YSAI) Pekalongan menggelar kegiatan penyembelihan hewan kurban dalam rangka Iduladha 1447 Hijriah di halaman Masjid Ar-Ridho YSAI, Desa Legokclile, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (28/5/2026) atau bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1447 H.
Pada momentum penuh keberkahan tersebut, YSAI menyembelih sebanyak 2 ekor sapi dan 8 ekor kambing yang kemudian didistribusikan kepada ratusan penerima manfaat dari masyarakat sekitar dan anak-anak binaan yayasan.
Sebanyak 450 kupon dibagikan kepada penerima manfaat, terdiri dari 355 kupon untuk masyarakat lingkungan sekitar dan 100 kupon untuk anak binaan yayasan kategori yatim serta keluarga prasejahtera. Khusus bagi anak binaan, penyaluran daging kurban juga disertai bantuan sembako dan uang bekal sebagai bentuk santunan rutin yayasan yang selama ini terus berjalan setiap bulan.
Kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga 11.30 WIB untuk proses penyembelihan, pencacahan, hingga pengemasan daging kurban. Selanjutnya, tahap kedua berupa pendistribusian dilaksanakan pukul 13.00 WIB hingga 14.30 WIB kepada total 456 penerima manfaat.
Suasana kebersamaan begitu terasa dalam pelaksanaan kurban tahun ini. Selain melibatkan para pengurus yayasan, kegiatan juga dikerjakan secara gotong royong oleh warga sekitar, 32 relawan, 10 tenaga ahli penyembelihan, serta keterlibatan aktif ibu-ibu pengurus yang membantu proses konsumsi, pengemasan, hingga distribusi sehingga acara berlangsung guyub, rukun, dan penuh kekeluargaan.
Pengasuh YSAI Pekalongan, Ustadz Dirno Budianto, menyampaikan bahwa filosofi ibadah kurban sejatinya bukan hanya menyembelih hewan, namun juga menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia.
“Spirit ibadah kurban adalah meneladani Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah SWT. Begitu pula keteladanan Nabi Ismail AS yang dengan penuh keikhlasan tunduk kepada perintah Allah,” ujarnya.
Menurutnya, makna kurban di masa kini sangat relevan dengan kehidupan sosial masyarakat. Kurban menjadi momentum untuk melatih keikhlasan, kepedulian sosial, mengikis keserakahan, egoisme, serta menumbuhkan rasa cinta dan pengorbanan kepada sesama.
“Di zaman sekarang, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih hawa nafsu, kesombongan, sifat tamak, dan ego pribadi. Karena sesungguhnya manusia adalah hewan yang diberi akal oleh Allah SWT,” tutur Budi.
Ia kemudian mengutip ungkapan dalam bahasa Arab:
الإنسانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ
Al-insānu ḥayawānun nāṭiq
(Manusia adalah makhluk hidup yang mampu berpikir dan berbicara)
Namun, lanjutnya, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh akalnya semata, melainkan oleh iman, adab, dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Budi juga menyampaikan rasa syukurnya atas hubungan harmonis yang selama ini terjalin antara yayasan dengan masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, hubungan YSAI dengan masyarakat sangat baik. Setiap ada momentum besar, semua saling membantu dan bergotong royong. Ini menjadi kekuatan besar dalam membangun kebermanfaatan bersama,” katanya.
Hubungan baik juga terjalin dengan pemerintah desa setempat. Sebelumnya, pihak yayasan telah bersilaturahmi ke kantor desa untuk membuka peluang kerja sama sosial dan pemberdayaan masyarakat, termasuk pelatihan terapi kesehatan bagi warga.
Selain kegiatan sosial dan keagamaan, YSAI juga dikenal aktif mengembangkan pertanian organik di lingkungan yayasan. Berbagai tanaman sayuran ditanam tanpa bahan kimia sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.
“Karena dari makanan yang sehat akan lahir mental yang sehat dan badan yang sehat,” tambah Budi.
Sementara itu, Ketua RW setempat, Jaswadi, mengaku bangga dan bersyukur atas keberadaan YSAI di wilayahnya.
“Kami sangat senang dengan hadirnya yayasan ini. Banyak manfaat yang dirasakan masyarakat. Setiap hari besar warga mendapat bantuan sembako, bahkan anak yatim dan warga kurang mampu juga rutin mendapat perhatian setiap bulan,” ungkapnya.
Ia mengaku telah mengikuti perjalanan pembangunan yayasan sejak awal hingga sekarang.
“Kalau boleh dibilang saya ini loyalis YSAI, karena sejak pembangunan pertama sampai sekarang saya sering diberi amanah untuk ikut membantu menyelesaikan berbagai kebutuhan yayasan,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Menurut Jaswadi, keberadaan pertanian organik di lingkungan yayasan juga menjadi contoh positif bagi masyarakat sekitar.
“Yayasan ini memberi contoh pertanian sehat kepada warga. Hasilnya dijual murah kepada masyarakat, bahkan kadang dibagikan gratis. Masyarakat di sini juga sangat mendukung keberadaan YSAI karena semuanya bisa berjalan bersama tanpa memandang golongan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Masjid Ar-Ridho YSAI kini juga menjadi pusat manfaat bagi masyarakat, termasuk sebagai tempat pelaksanaan salat jenazah warga sekitar.
“Masjid ini sangat bermanfaat. Hampir setiap pekan selalu ada warga yang disalatkan di sini,” ujarnya.
Salah satu relawan penyembelihan, Angga, mengaku senang dapat kembali terlibat dalam kegiatan kurban bersama YSAI.
“Alhamdulillah, saya senang sekali di lingkungan kami ada kegiatan kurban rutin dengan jumlah yang cukup banyak. Semoga setiap tahun semakin bertambah dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Ustadz Dirno Budianto berharap hubungan antara yayasan dan masyarakat dapat terus terjalin semakin erat dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan kebermanfaatan bersama.
“Semoga Allah SWT senantiasa menjaga persaudaraan ini. Kami berharap YSAI bisa terus menjadi rumah kebaikan, rumah manfaat, dan rumah persatuan bagi masyarakat. Semoga setiap langkah kecil yang dilakukan bersama menjadi amal jariyah dan mendatangkan keberkahan bagi semua,” pungkasnya.( AS Saeful Husna TP Batang Jateng)













