Indramayu- teraspanturanews.com 16 Juni 2026, Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 1 Syuro dimaknai secara istimewa di Masjid Rahmatan Lil’Alamin, Mahad Al-Zaytun, Selasa (16/6/2026). Sebanyak 19 jemaat Komunitas Pasundan Menyembah yang dipimpin Pdt. Ir. Danny Supangat hadir mengikuti kegiatan Doa Deklarasi Prophetik dan Tiup Sangkakala Transformasi Indonesia Jaya, Indonesia Raya
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan, toleransi, dan semangat kebangsaan. Para peserta memanjatkan doa bagi kemajuan bangsa Indonesia, keberlangsungan program-program strategis Al-Zaytun, serta kesembuhan Syaykh Panji Gumilang yang saat ini sedang menjalani perawatan kesehatan.
Dalam sambutannya, Pdt. Danny Supangat menegaskan bahwa makna masjid yang sesungguhnya tidak hanya terbatas sebagai tempat pelaksanaan ritual ibadah semata, melainkan juga sebagai ruang perjumpaan kemanusiaan untuk menjaga persatuan dan membangun perdamaian.
“Keimanan kepada Tuhan dan cara beribadah tidak dapat diseragamkan. Semua kembali kepada keyakinan yang dianut masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menghormati, menjaga persaudaraan, dan membangun kehidupan yang damai,” ujarnya.
Menurut Danny, hubungan persahabatan antara dirinya dan keluarga besar Al-Zaytun telah terjalin erat sejak tahun 2023. Bahkan di luar kegiatan resmi, ia kerap menyempatkan diri berkunjung ke Al-Zaytun hampir setiap akhir pekan serta mengajak berbagai kalangan untuk mengenal lebih dekat lembaga pendidikan tersebut.
“Ini bukan sekadar hubungan organisasi, tetapi sudah menjadi keterhubungan batin. Saya selalu merasa mendapatkan energi, inspirasi, dan semangat baru setiap kali datang ke Al-Zaytun,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Danny juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai program besar Al-Zaytun, termasuk gagasan pembangunan sekolah berbasis **LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Spirituality)** di 500 titik kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Menurutnya, gagasan tersebut merupakan langkah visioner yang menunjukkan keberanian berpikir jauh ke depan. “Program seperti ini idealnya lahir dari tingkat kepemimpinan nasional. Namun Al-Zaytun selalu berani berpikir out of the box. Banyak pemikiran Syaykh Panji Gumilang yang melampaui zamannya dan berorientasi pada masa depan bangsa,” katanya.
Ia juga menyampaikan doa agar Tuhan Yang Maha Kasih senantiasa memberikan kekuatan kepada Al-Zaytun dan mempercepat pemulihan kesehatan Syaykh Panji Gumilang.
Bagi Danny, Al-Zaytun merupakan lembaga yang memberikan inspirasi nyata dalam kehidupannya. Ia mengisahkan bagaimana dorongan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister yang selama bertahun-tahun tertunda akhirnya terwujud setelah mengenal Syaykh Panji Gumilang.
“Saya ini anak seorang pendeta senior di Bandung dan lulusan Teknik ITB. Orang tua saya sejak lama mendorong saya untuk melanjutkan kuliah S2, tetapi selalu saya tunda. Setelah mengenal Syaykh Panji Gumilang, semangat itu muncul kembali. Sekarang saya sedang menjalani pendidikan S2. Ini salah satu inspirasi yang saya dapatkan dari beliau,” ujarnya sambil tersenyum.
Danny juga mengungkapkan bahwa saat ini cakupan pelayanannya semakin luas., Dulu saya dikenal sebagai Ketua Pasundan Menyembah. Sekarang saya berada pada level Indonesia Menyembah. Saya berkeliling ke berbagai provinsi untuk berdoa bagi kemajuan bangsa dan kemajuan Al-Zaytun,” katanya.
Kegiatan tersebut sejalan dengan tema peringatan 1 Syuro 1448 H, yakni Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini, yaitu memperkuat persatuan nasional di tengah berbagai dinamika global.
Dalam kesempatan yang sama, Danny turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim yang dikenal sebagai salah satu sahabat dekat Syaykh Panji Gumilang.
“Kami turut berduka cita. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” ucapnya.
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Danny membawa sebuah sangkakala dan meniupkannya sebagai bagian dari deklarasi doa bersama.
Dalam tradisi kenabian yang dipahami sebagian kalangan Kristen, sangkakala merupakan simbol panggilan ilahi, tanda kebangkitan semangat, kewaspadaan, penyatuan umat, dan pengumuman dimulainya sebuah musim atau era baru. Tiupan sangkakala bukan dimaksudkan sebagai unsur mistis, melainkan sebagai simbol seruan moral dan spiritual agar manusia kembali kepada nilai-nilai kebenaran, persatuan, dan pengharapan.
Dalam konteks acara ini, tiupan sangkakala dimaknai sebagai seruan untuk membangkitkan semangat transformasi bangsa menuju Indonesia yang lebih maju, mandiri, damai, dan berkeadilan.
Doa Deklarasi Prophetik adalah doa yang tidak hanya berisi permohonan kepada Tuhan, tetapi juga pernyataan iman, harapan, dan komitmen moral terhadap masa depan yang diyakini akan diwujudkan melalui pertolongan Tuhan dan kerja nyata manusia.
Deklarasi prophetik dalam kegiatan ini menjadi ungkapan keyakinan bahwa Indonesia memiliki masa depan yang besar apabila seluruh elemen bangsa bersatu, mengembangkan pendidikan, memperkuat karakter kebangsaan, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Di Al-zayttun Toleransi dan Perdamaian itu dikerjakan, bukan dibacakan buktinya Kehadiran jemaat Pasundan Menyembah di Masjid Rahmatan Lil’Alamin kembali menunjukkan bahwa semangat toleransi di Al-Zaytun bukan sekadar slogan atau narasi simbolik. Nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata melalui keterbukaan ruang dialog, penghormatan terhadap perbedaan keyakinan, dan kerja sama lintas iman untuk membangun perdamaian.
Bagi sebagian pihak, pemandangan umat berbeda keyakinan berkumpul, berdoa, dan saling mendoakan di lingkungan masjid mungkin terlihat tidak biasa. Namun bagi Al-Zaytun, hal tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan persaudaraan kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat identitas, tanpa menghilangkan keyakinan masing-masing.
Dalam semangat itulah peringatan 1 Syuro 1448 H di Al-Zaytun berlangsung; menghadirkan pesan bahwa persatuan, toleransi, pendidikan, dan perdamaian merupakan fondasi penting bagi terwujudnya Indonesia Jaya dan Indonesia Raya.
(!AS Saeful Husna TP)










