Batang – teraspanturanews.com Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang memastikan kesiapan jajaran puskesmas di wilayahnya untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tingkat SMP dan SMA/SMK.
Kepala Dinkes Batang Ida Susilaksmi menyampaikan bahwa, pihak sekolah dapat berkoordinasi langsung dengan puskesmas setempat untuk mengisi materi penyuluhan kesehatan.
“MPLS itu biasanya kan setingkatnya yang SMP dan SMA nggih, Pak. Kalau SD sih biasane mboten. Itu biasanya ada penyuluhan kesehatan. Nah, itu tergantung dari sekolahnya. Kalau misalnya ada kegiatan itu, nanti minta ke puskesmas wilayah setempat untuk menjadi narasumber,” katanya, saat ditemui di Kantornya, Jumat (26/6/2026).
Materi yang disiapkan oleh tim kesehatan puskesmas mencakup berbagai isu krusial yang kerap dihadapi remaja usia sekolah. Mulai dari Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), kesehatan reproduksi, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), hingga penanganan anemia pada remaja putri.
Terkait materi pencegahan narkoba, Dinkes menjelaskan bahwa penanganan biasanya berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian. Namun, puskesmas siap mengambil alih jika wilayah sekolah tersebut belum terjangkau oleh BNN.
“Tapi tergantung juga, kan kadang BNN kan tidak menjangkau ke semua. Jadi, kadang kalau misalnya itu ya dari puskesmasnya sendiri yang menyampaikan. Kan di puskesmas juga ada dokter, ada perawat, ada orang-orang yang memang sudah, maksudnya, mengertilah terkait dengan itu,” jelasnya.
Selain kesehatan fisik, isu kesehatan mental (mental health) seperti kecemasan, depresi, hingga bullying(perundungan) di lingkungan sekolah juga menjadi perhatian serius. Dinkes Batang juga mengungkapkan bahwa petugas puskesmas yang menaungi kesehatan jiwa akan diterjunkan untuk memberikan edukasi umum dan melakukan skrining awal menggunakan ceklis khusus.
“Faktor adaptasi di era sistem zonasi sekolah juga memicu dinamika psikologis tersendiri bagi para siswa. Masalah-masalah siswa kan bullying. Terus tadi, anak yang misalnya lingkungannya, karena sekarang ini kan pakainya zonasi, jadi variasi kelas sosialnya juga kan tinggi,” ujar dia.
Jadi kan ada anak yang kadang merasa tidak bisa mengimbangi teman-temannya. Itu juga jadi merasa, dia terbully dengan sendirinya, bukan dibully orang lain. Ini mengenai fenomena depresi dan kecemasan yang kerap ditemui pada remaja saat ini.
(AS Saeful Husna TP)







