Batang- teraspanturanews.com Kamis (9/7/2026) – Yayasan Bangun Pemuda Indonesia (YBPI) Kabupaten Batang kembali menyalurkan program Wakaf Al-Qur’an kepada Pondok Pesantren Selamat Cahaya Al-Qur’an di Kauman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Program ini merupakan bagian dari komitmen YBPI dalam mendukung pendidikan keagamaan sekaligus memperkuat budaya berbagi kepada lembaga-lembaga pendidikan.
Penyerahan wakaf Al-Qur’an berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan Al-Qur’an bagi para santri dalam kegiatan belajar, mengaji, dan menghafal Al-Qur’an.
Pengasuh santri putra Pondok Pesantren Selamat Cahaya Al-Qur’an, Ustadz Khoirul Anam, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepedulian YBPI Kabupaten Batang.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YBPI Kabupaten Batang atas wakaf Al-Qur’an ini. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kebutuhan para santri. Harapan kami, ke depan masih ada program-program wakaf lain yang dapat mendukung perkembangan pesantren,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir kebutuhan makan siang para santri turut terbantu melalui sedekah nasi dari RM Pawon Simbah yang hingga kini terus berjalan secara istiqamah.
“Alhamdulillah, sedekah nasi dari RM Pawon Simbah masih terus berlangsung hingga sekarang. Begitu pula wakaf Al-Qur’an ini menjadi perhatian yang sangat berarti bagi pesantren kami. Semoga semua pihak yang telah berbagi mendapatkan keberkahan dari Allah SWT,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, unsur Pembina YBPI Kabupaten Batang, Mahmud, turut mendampingi penyerahan wakaf Al-Qur’an. Seusai kegiatan, Mahmud berbincang hangat bersama beberapa pengurus pesantren. Dalam dialog tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyintas gagal ginjal kronis yang telah menjalani terapi hemodialisis (cuci darah) selama kurang lebih tiga tahun.
Mahmud menuturkan bahwa penyakit ginjal dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Menurutnya, saat ini semakin banyak masyarakat usia produktif yang harus menjalani cuci darah akibat menurunnya fungsi ginjal, sehingga kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak dini harus terus ditingkatkan.
“Penyakit datang tanpa izin dan tanpa mengenal usia. Banyak anak muda yang kini harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani hemodialisis. Karena itu, menjaga kesehatan sejak dini merupakan investasi yang sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perjuangan seorang pasien gagal ginjal tidak hanya saat menjalani cuci darah di rumah sakit, tetapi juga ketika kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Justru tantangan terbesar adalah menjaga disiplin terhadap seluruh anjuran medis.
Menurut Mahmud, salah satu ujian terberat adalah mengendalikan asupan cairan. Dalam kondisi tertentu, pasien hemodialisis hanya diperbolehkan mengonsumsi sekitar 600 mililiter cairan per hari.
“Yang berat bukan hanya proses cuci darahnya, tetapi bagaimana kita mampu mendisiplinkan diri setiap hari. Menahan rasa haus, membatasi minum, menjaga pola makan, menghindari makanan yang dilarang, semuanya membutuhkan tekad yang kuat. Hal-hal seperti ini sering kali tidak terlihat oleh orang lain, tetapi justru sangat menentukan kondisi kesehatan pasien,” tuturnya.
Selain itu, Mahmud menegaskan bahwa pengelolaan psikologis juga menjadi bagian penting dalam proses pengobatan. Pasien harus mampu mengendalikan emosi, mengurangi stres, dan menjaga pikiran tetap positif karena kondisi mental sangat memengaruhi daya tahan tubuh.
“Pasien hemodialisis tidak boleh mudah larut dalam emosi. Ketika marah, stres, atau terlalu banyak tekanan pikiran, kondisi tubuh dapat ikut menurun. Karena itu saya selalu berusaha bersabar, memperbanyak doa, bersyukur, dan terus memiliki semangat hidup. Dukungan keluarga, sahabat, dan lingkungan juga menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menjalani pengobatan,” ungkapnya.
Mahmud berharap pengalaman hidup yang ia bagikan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa kesehatan merupakan nikmat yang harus dijaga sebelum datangnya sakit. Ia mengajak semua pihak untuk menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, mencukupi kebutuhan air sesuai kondisi tubuh, rutin berolahraga, serta tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila muncul gejala yang mengkhawatirkan.
Ke depan, Mahmud juga berharap YBPI Kabupaten Batang dapat terus mengembangkan program sosial dan pendidikan, tidak hanya melalui wakaf Al-Qur’an tetapi juga melalui kegiatan edukasi kesehatan.
“Saya berharap program wakaf Al-Qur’an ini terus berlanjut sehingga semakin banyak pesantren dan lembaga pendidikan yang merasakan manfaatnya. Insyaallah apabila diberikan kesempatan, saya juga ingin berbagi edukasi mengenai penyakit ginjal kepada para santri, pelajar, maupun masyarakat. Mudah-mudahan pengalaman yang saya alami dapat menjadi pelajaran berharga agar generasi muda lebih peduli terhadap kesehatan dan mampu mencegah penyakit sejak dini,” harap Mahmud.
Melalui kegiatan ini, YBPI Kabupaten Batang berharap wakaf Al-Qur’an tidak hanya menjadi amal jariyah yang memberikan manfaat bagi para santri, tetapi juga menjadi jembatan silaturahmi, memperkuat kepedulian sosial, serta membuka ruang kolaborasi dalam bidang pendidikan dan kesehatan demi terwujudnya masyarakat yang lebih religius, sehat, dan saling peduli.
(AS Saeful husna TP)








