SOLO–teraspanturanews.com Minggu, 30 Agustus 2026. Koperasi Pemasaran Karya Kita Jaya (KKJ) kembali menggelar rapat berkala bersama para representatif Kantor Cabang Pembantu (KCP) wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung di Kota Solo tersebut mengusung semangat memperkuat ikatan kekeluargaan, meningkatkan kesadaran diri, sekaligus membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan bersama.
KKJ saat ini memiliki total sekitar 407 kepala keluarga (KK) sebagai anggota, Dalam kegiatan tersebut, panitia mengundang sekitar 210 peserta yang hadir mewakili masing-masing KCP di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Menariknya, panitia juga mengundang peserta bersama pasangan suami atau istri. Kehadiran pasangan tersebut menciptakan suasana pertemuan yang lebih hangat, harmonis, dan mencerminkan semangat kekeluargaan sebagai salah satu kekuatan utama koperasi.
Rapat berkala tersebut dihadiri langsung oleh Penasihat KKJ, Pengawas, Pendiri, serta Ketua Harian KKJ. Kota Solo kali ini dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan akbar rutin berkala tersebut. Panitia yang sudah terbiasa menyelenggarakan acara dengan jumlah peserta cukup banyak berhasil menjalankan seluruh rangkaian kegiatan dengan baik, mulai dari pembukaan hingga acara berakhir.
Selain menjadi forum konsolidasi organisasi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi anggota. Sejumlah agenda yang menjadi perhatian antara lain penguatan ikatan dan komitmen antaranggota, edukasi program pertanian terpadu, program pendidikan bagi anggota dan keluarga, serta pengembangan program kesejahteraan bersama.
Dengan konsep tersebut, koperasi tidak hanya ditempatkan sebagai wadah kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bersama. Anggota didorong untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemandirian, serta kesadaran bahwa kesejahteraan tidak hanya dibangun secara individual, tetapi melalui kekuatan kolektif.
Dalam pemaparannya, Penasihat KKJ Dr.Hanan mengawali materi dengan mengangkat persoalan pendidikan Indonesia dan membandingkannya dengan pendidikan di Korea. Beliau menyoroti pentingnya mengembalikan orientasi pendidikan pada pembangunan nilai, karakter, rasa ingin tahu, dan kualitas manusia, bukan semata-mata sebagai bekal untuk memperoleh pekerjaan.
Menurut Hanan pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa. Negara memiliki peran penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang memungkinkan masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkembang secara berkelanjutan. Pendidikan tidak semata-mata menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki integritas, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.
Hanan kemudian mengutip sejumlah ungkapan yang dikaitkan dengan Steve Jobs, terutama mengenai pendidikan, kesehatan, kerja sama, integritas, dan loyalitas. Pesan tersebut digunakan sebagai bahan refleksi bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia tetap menjadi unsur terpenting dalam proses pendidikan dan pembangunan kehidupan.
Dalam konteks kesehatan, peserta diajak memahami pentingnya pola hidup sehat melalui makanan yang baik, olahraga, istirahat, sinar matahari, kepercayaan diri, serta hubungan sosial yang positif. Sementara dalam konteks organisasi, Hanan menekankan bahwa pekerjaan besar tidak dapat diselesaikan seorang diri. Kerja sama tim, rasa percaya, komunikasi, dan kemampuan saling mendukung menjadi modal penting untuk mencapai tujuan bersama.
Hanan juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan integritas dan loyalitas. Ia mengingatkan agar komitmen hidup bersama di antara anggota tidak memudar. Loyalitas, menurutnya, bukan sekadar bertahan ketika keadaan baik, tetapi kemampuan menjaga nilai dan tujuan bersama ketika menghadapi berbagai tantangan.
Pembahasan kemudian diarahkan pada kesadaran manusia terhadap tujuan hidup. Hanan mengajak peserta melakukan refleksi dengan mempertanyakan kembali makna ibadah, termasuk tujuan salat dan wudhu. Menurutnya, ibadah tidak semestinya berhenti pada aktivitas fisik dan rutinitas, tetapi harus melahirkan nilai serta perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau mengajak seluruh anggota menyadari bahwa manusia pada dasarnya saling terhubung. Dari kesadaran tersebut diharapkan lahir sikap saling mengerti, saling membantu, dan saling menguatkan. Semangat tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kesejahteraan bersama.
Dalam bidang ekonomi keluarga, Hanan mendorong anggota untuk mulai mengembangkan pertanian organik terpadu. Dan menegaskan setiap keluarga harus memiliki kemampuan dan akses lahan minimal 1.000 M2 per KK, dan dapat memanfaatkan lahan secara produktif dengan menanam sayuran, buah-buahan seperti durian, serta mengembangkan peternakan unggas dan perikanan.
Konsep tersebut memiliki nilai edukasi penting karena mengajarkan keluarga mengenai ketahanan pangan, diversifikasi sumber pendapatan, pemanfaatan lahan, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Lahan tidak hanya dipandang sebagai aset, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan sekaligus sumber penghasilan keluarga.
Semangat tersebut selaras dengan filosofi Jawa tentang kehidupan yang makmur dan tenteram, seperti ungkapan “gemah ripah repeh rapih, toto titi tentrem kerto raharjo, subur sarwo tinandur, murah sarwo tinuku.”
Pria yang sangat disegani ini menyampaikan materi tuntas dan membuat peserta mengikuti pemaparannya dengan penuh perhatian. Materi disampaikan secara detail dan menghubungkan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, spiritualitas, keluarga, ekonomi hingga pertanian.
Pada sesi closing statement, Hanan kembali menggugah peserta mengenai manifestasi tertinggi manusia, yaitu kesadaran diri. Ketika kesadaran diri tumbuh, menurutnya, akan lahir sikap saling memahami, membantu, dan menguatkan.
Ia juga mengingatkan para orang tua agar memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak. Anak tidak hanya membutuhkan bekal materi, tetapi juga perlu ditanamkan kesadaran diri, tanggung jawab, integritas, dan nilai-nilai kehidupan agar tumbuh menjadi generasi yang mampu meneruskan tujuan baik keluarga dan masyarakat.
Sementara itu, Murtaqi Mashudi selaku Unsur Pengawas KKJ menjadi pembicara kedua dengan memaparkan materi bertajuk “Roadmap Menuju Pendapatan Rp30 Juta/Bulan dalam Waktu Satu Tahun.”
Pada tahap awal, Mashudi memaparkan strategi membangun arus kas melalui usaha sayuran, khususnya kangkung. Salah satu contoh yang diberikan adalah pemanfaatan lahan sekitar 400 meter persegi yang dibagi menjadi empat bedeng untuk sistem tanam bergilir, sehingga panen dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Dalam simulasi tersebut, produksi sayuran diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan awal anggota. Mashudi juga mendorong pemanfaatan limbah organik untuk pembuatan pupuk organik cair guna menekan biaya produksi. Selain kangkung, anggota juga dapat mengembangkan komoditas seperti bayam, sawi, caisim, dan selada.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menuju pertanian terpadu, dengan memanfaatkan limbah organik untuk mendukung budidaya maggot sebagai pakan alternatif ternak, sekaligus menanam hijauan seperti indigofera dan daun singkong untuk mendukung kebutuhan pakan kambing.
Menurut konsep yang dipaparkan, pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan limbah dapat saling terhubung sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Edukasi ini diharapkan membuka wawasan anggota bahwa lahan yang dikelola secara produktif dapat menjadi sumber pangan sekaligus sumber pendapatan keluarga.
Pada sesi akhir, panitia memberikan kesempatan kepada sejumlah perwakilan peserta untuk menyampaikan tanggapan atas terselenggaranya kegiatan. Sesi interaktif tersebut mendapat respons positif karena peserta dapat menyampaikan pengalaman, pandangan, dan harapan terhadap perkembangan KKJ ke depan.
Sementara itu, Aman Sunarya selaku Ketua KKJ sekaligus Ketua Panitia mengatakan kegiatan semacam ini akan terus digulirkan. Bahkan, apabila memungkinkan, pelaksanaan kegiatan berikutnya akan dilakukan secara bergilir di berbagai daerah.
Menurut Aman, kegiatan tidak harus selalu dilaksanakan di satu kota. Pergantian lokasi diharapkan memberikan kesempatan kepada anggota di wilayah lain untuk menjadi tuan rumah sekaligus memperkuat interaksi antaranggota. Meski demikian, faktor pembiayaan tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi kegiatan.
“Acara ini akan terus digulirkan, bahkan bila memungkinkan bergilir gantian tempat, tidak hanya dalam satu kota namun berpindah-pindah. Tetapi faktor biaya juga tetap kami pertimbangkan,” ungkap Aman Sunarya saat dihubungi jurnalis teraspanturanews.com.
Secara keseluruhan, kegiatan KKJ di Solo tersebut tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kembali nilai kebersamaan. Pendidikan, kesehatan, spiritualitas, pertanian, ekonomi keluarga, dan penguatan karakter menjadi bagian yang saling berkaitan dalam membangun kesejahteraan.
Harapan seluruh anggota adalah lahirnya kekuatan komitmen, keteguhan integritas, loyalitas, serta kerja sama yang semakin baik. Dengan fondasi tersebut, KKJ diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi anggota, keluarga, serta masyarakat.
Pada akhirnya, pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah bahwa kesejahteraan bersama harus dimulai dari kesadaran diri. Ketika setiap individu memahami tanggung jawabnya, mau belajar, mau bekerja sama, menjaga integritas, serta mampu mengelola potensi yang dimiliki, maka kebersamaan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi dapat diwujudkan menjadi gerakan nyata untuk membangun keluarga dan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera.
(AS Saeful Husna TP)











