Batang – teraspanturanews.com SMP Negeri 4 Batang menggelar Gelar Budaya IV. Kegiatan tersebut menjadi panggung apresiasi seni sekaligus ujian akhir mata pelajaran seni budaya bagi siswa yang menampilkan pertunjukan ketoprak lengkap dengan iringan gamelan.
Kepala SMPN 4 Batang Sri Mulyatno mengatakan, kegiatan tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran seni budaya yang telah dipersiapkan sejak awal tahun ajaran.
“Sejak bulan Juli anak-anak sudah kami informasikan bahwa ujian akhir seni budaya akan ditampilkan dalam bentuk ketoprak di atas panggung dengan iringan gamelan. Jadi ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari proses pembelajaran,” katanya saat ditemui di halaman SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (23/5/2026).
Dijelaskannya, selain menjadi ujian praktik, kegiatan tersebut juga bertujuan mewariskan kesenian tradisional kepada generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai budaya daerah. Menurutnya, sekolah berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sekaligus tampil di hadapan orang tua dan masyarakat melalui fasilitas yang dimiliki sekolah, termasuk perangkat gamelan dan tenaga pengajar seni budaya.
“Tugas sekolah memfasilitasi agar anak-anak bisa tampil dan budaya tradisional tetap hidup di tengah generasi muda,” jelasnya.
Sri Mulyatno mengungkapkan, antusiasme siswa mengikuti pelajaran seni budaya tergolong tinggi. Bahkan, banyak siswa secara sukarela mengikuti latihan tambahan di luar jam sekolah demi mempersiapkan penampilan terbaik.
“Mereka sangat semangat. Bahkan tidak hanya latihan pagi, sore hari pun mereka meminta tambahan latihan. Dukungan orang tua juga luar biasa,” ungkapnya.
Pada gelaran tahun ini, SMPN 4 Batang mengusung tema Jejak Sejarah dan Legenda, Mewarisi Budaya, Menguatkan Jati Diri Bangsa”, sebagai upaya memperkenalkan nilai-nilai budaya sekaligus memperkuat karakter siswa.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang Bambang Suryantoro Sudibyo memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Gelar Budaya yang dinilai mampu menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting dilakukan di tengah tantangan modernisasi yang membuat sebagian anak mulai jauh dari kesenian tradisional.
“Ini sangat baik karena anak-anak sekarang banyak yang mulai lupa budaya sendiri. Harapannya kegiatan seperti ini bisa menjadi cara untuk nguri-uri budaya,” tegasnya.
Ia juga berharap, ke depan semakin banyak sekolah di Kabupaten Batang yang memiliki fasilitas alat gamelan agar pembelajaran seni budaya tradisional dapat berkembang lebih luas, meski realisasinya tetap disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
Selain itu, Bambang berharap kelompok seni yang telah terbentuk di sekolah tetap terjaga meskipun para siswa nantinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang berbeda.
“Harapannya, mereka tetap berkumpul dan memainkan kesenian bersama, sehingga bakat yang sudah terbentuk tidak berhenti saat lulus sekolah,” pungkasnya. (AS Saeful Husna TP Batang, Jateng)









