Batang –teraspanturanews.com Peran seorang ayah dalam tumbuh kembang anak sering kali disalahpahami hanya sebatas pemenuh kebutuhan materi atau pencari nafkah. Padahal, kehadiran fisik dan emosional figur ayah sangat krusial dalam mengisi ruang kosong psikologis anak, terutama pada momen-momen penting seperti hari pertama masuk sekolah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Batang Joko Prasetijo menekankan, bahwa keterlibatan ayah saat ini sangat dibutuhkan. Salah satu langkah nyata yang didorong adalah gerakan mendampingi anak di tahun ajaran baru.
“Jadi ayah itu tidak hanya wajib hadir dalam sisi fisiknya saja, tapi juga emosionalnya. Ayah itu kan selama ini banyak yang menafsirkan berbeda, hanya pada posisi mencari nafkah. Sehingga peran ayah yang sesungguhnya, di samping dia memang mencari nafkah, tapi sebetulnya ada fungsi, fungsi psikologis, emosional,” katanya saat ditemui di Kantornya, Jumat (26/6/2026).
Joko juga menjelaskan, Kementerian PPPA sendiri telah mengampanyekan gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah. Gerakan ini bukan bertujuan memaksa ayah untuk mengantar anak setiap hari, melainkan sebagai momentum untuk memperbaiki pola asuh di masyarakat.
“Kalau bekerja itu setiap hari. Jadi, ngambil rapor, kemudian mengantar anak pertama kali masuk sekolah, bukan ngantar setiap hari, tapi mengantar pertama kali, itu menjadi sebuah gerakan di kementerian kita memang. Kenapa menjadi gerakan? Ya tadi itu, kita ingin perbaiki situasi yang ada di masyarakat bahwa peran ayah itu betul-betul ada, mengisi ruang kosong anak,” jelasnya.
Dalam membangun kedekatan, Joko menyebutkan pentingnya kualitas komunikasi. Menukil pesan dari Menteri PPPA, seorang ayah diharapkan bisa meluangkan waktu khusus untuk berinteraksi secara intens dengan anak tanpa gangguan teknologi.
“Seorang ayah itu harus memiliki waktu paling tidak 15 menit saja intens, tapi tanpa gawai. Itu sama ngobrol dengan anak,” tegasnya.
Momen intim ini bisa dilakukan dalam aktivitas sederhana sehari-hari, seperti saat memboncengkan anak, mengantar sekolah, atau menjelang tidur malam.
Menanggapi fenomena dominasi kaum ibu dalam mengurus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Joko menilai ayah idealnya tetap ikut aktif. Jika keterbatasan waktu akibat kerja menjadi kendala, ayah wajib memantau perkembangan proses tersebut secara daring atau komunikasi jarak jauh.
“Kalaupun ayah itu tidak bisa hadir mendampingi karena bekerja, karena kesibukan, pasti ayah itu juga memonitor, lewat gawai, ‘Gimana, Bu? Jurnale kepiye (jurnalnya bagaimana)?’ Kayak seperti itu. Mereka pasti komunikasi. Ayah itu, pasti karena tanggung jawabnya, dia tidak akan melepaskan saja,” pungkasnya.
(AS Saeful Husna TP)







