Pemalang –teraspanturanews.com Sebanyak 107 pegiat sosial dari seluruh kabupaten/kota se-Pekalongan Raya mengikuti kegiatan Pemantapan dan Konsolidasi Pegiat Sosial dengan Upgrade Wawasan Pertanian Terpadu yang berlangsung di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB tersebut menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang pertanian organik dan penguatan karakter.
Koordinator Pekalongan Raya, Rakiman Budi Sukamto, yang menjadi narasumber utama, menegaskan bahwa pegiat sosial dan sektor pertanian memiliki hubungan yang sangat erat. Menurutnya, keduanya sama-sama hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus membangun kesejahteraan yang berkelanjutan.
“Pertanian menyediakan sumber kehidupan, sedangkan pegiat sosial menggerakkan kepedulian dan pemberdayaan masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Rakiman menekankan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekuatan integritas dan loyalitas setiap anggotanya. Ia mengajak seluruh peserta menjadikan kejujuran sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali, Rakiman menjelaskan bahwa kejujuran memiliki tiga dimensi utama, yaitu jujur dalam niat, jujur dalam perkataan, dan jujur dalam perbuatan. Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus menjadi satu kesatuan dalam setiap aktivitas pegiat sosial.
“Kejujuran dalam niat berarti bekerja semata-mata karena Allah, bukan demi pujian atau kepentingan pribadi. Kejujuran dalam perkataan berarti menyampaikan fakta apa adanya. Sedangkan kejujuran dalam perbuatan adalah kesesuaian antara ucapan dan tindakan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa kejujuran menghadirkan ketenangan, sedangkan kebohongan menimbulkan kegelisahan. Menurutnya, seseorang yang jujur akan memiliki hati yang tenang karena tidak dibebani rasa takut dan kecemasan.
Rakiman kemudian menguraikan berbagai dampak buruk dari sikap tidak jujur. Bagi diri sendiri, kebohongan akan menghilangkan ketenangan batin, merusak integritas, serta menumpulkan hati nurani. Dalam kehidupan sosial, ketidakjujuran merusak kepercayaan, memicu konflik, dan menghambat kerja sama. Sementara dalam perspektif spiritual, kebohongan mengurangi keberkahan hidup, menjauhkan seseorang dari sifat yang dicintai Allah, serta menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.
Sebagai langkah membangun karakter yang kuat, ia mengajak peserta membiasakan enam sikap, yaitu meluruskan niat, berkata benar dalam setiap keadaan, berani mengakui kesalahan, menjaga amanah, melakukan evaluasi diri secara rutin, serta membangun lingkungan yang saling menguatkan dalam kejujuran.
Rakiman juga mengaitkan nilai-nilai kejujuran dengan praktik pertanian organik. Menurutnya, pertanian organik bukan hanya berbicara tentang teknik budidaya, tetapi juga merupakan wujud akhlak kepada manusia dan alam.
“Produk organik adalah cerminan integritas. Jangan mengaku organik apabila prosesnya tidak organik. Kejujuran harus hadir mulai dari proses budidaya, pengemasan, hingga pemasaran,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh pegiat sosial untuk mulai memanfaatkan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), sebagai sarana meningkatkan produktivitas pertanian, pemasaran, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Tujuan kita bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi memuliakan manusia melalui pangan yang sehat, lingkungan yang lestari, dan pelayanan yang berintegritas,” katanya.
Sementara itu, narasumber kedua, Banon Prakoso, calon Magister Agronomi sekaligus Wakil Koordinator Daerah Pekalongan Raya, mengajak seluruh peserta menjadi ‘dokter tanaman’ yang mampu menghidupkan kembali tanaman kurang produktif hingga kembali berbuah.
Menurut Banon, pegiat sosial harus menjadi bagian dari solusi bagi kesejahteraan masyarakat, terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis pertanian organik.
“Kita adalah anggota yang terpimpin. Apa yang kita kerjakan harus menjadi solusi bagi masyarakat. Jangan lelah beristikamah menjadi pelayan masyarakat,” ujarnya.
Ia mendorong setiap anggota memiliki lahan pertanian produktif sebagai media pembelajaran sekaligus contoh nyata bagi masyarakat. Selain itu, lembaga juga diharapkan memiliki lahan pertanian organik sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Banon juga mengajak seluruh peserta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, maupun sektor swasta.
“Sambut program-program yang baik dari pemerintah, lalu kita hadir sebagai pelaksana di lapangan. Jangan hanya menunggu peluang, tetapi ciptakan manfaat. Saya yakin kita semua bisa,” katanya penuh semangat.
Dalam sesi diskusi, peserta Uda Carmudi memberikan sejumlah masukan. Ia mengusulkan agar konsumsi kegiatan mendatang lebih bervariasi dengan memanfaatkan hasil laut, mengingat wilayah Pantura memiliki potensi perikanan yang melimpah. Ia juga mengusulkan agar kegiatan serupa diselenggarakan secara bergilir di setiap kantor cabang pembantu sehingga seluruh daerah memiliki kesempatan yang sama menjadi tuan rumah.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar seluruh peserta mampu menjadi pegiat sosial yang berintegritas, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menjadi pelopor pertanian organik yang ramah lingkungan dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Melalui konsolidasi ini, para peserta diharapkan semakin memahami bahwa gerakan sosial yang kuat harus dibangun di atas karakter yang kokoh, ilmu yang terus diperbarui, dan semangat kolaborasi. Sebab pada akhirnya, tujuan dari seluruh ikhtiar tersebut adalah menghadirkan manfaat yang lebih luas serta memuliakan kehidupan manusia melalui pangan yang sehat, lingkungan yang lestari, dan pengabdian yang tulus.
( AS Saeful Husna TP)










