Jumat, Agustus 28, 2026
  • Login
Teras Pantura News
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • Pariwisata
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Teras Pantura News
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • Pariwisata
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Ekonomi
Home Berita

Pemantapan Komitmen Organ Yayasan dengan Ikrar Relawan, Pegiat Sosial Pekalongan Raya Teguhkan Dharma Bakti Berkelanjutan

teraspanturanews.com

by Redaksi
Agustus 25, 2026
in Berita
0
Pemantapan Komitmen Organ Yayasan dengan Ikrar Relawan, Pegiat Sosial Pekalongan Raya Teguhkan Dharma Bakti Berkelanjutan
Pemantapan Komitmen Organ Yayasan dengan Ikrar Relawan, Pegiat Sosial Pekalongan Raya Teguhkan Dharma Bakti Berkelanjutan
Pemantapan Komitmen Organ Yayasan dengan Ikrar Relawan, Pegiat Sosial Pekalongan Raya Teguhkan Dharma Bakti Berkelanjutan
20
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

PEMALANG — teraspanturanews.com Tidak kurang dari 100 pegiat sosial se-Pekalongan Raya mengikuti pertemuan rutin berkala yang digelar di Pemalang, Senin (24/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen organisasi sekaligus meneguhkan kembali semangat pengabdian melalui tema “Pemantapan Komitmen Organ Yayasan dengan Ikrar Relawan, Representasi Dharma Bakti Berkelanjutan.”

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan refleksi. Para peserta tidak hanya diajak memahami kembali berbagai program sosial yang dijalankan, tetapi juga diajak menggali makna yang lebih dalam tentang kepedulian, komitmen, kesadaran diri, serta pentingnya menjaga jiwa dalam berorganisasi.

Spirit utama yang diusung dalam pertemuan tersebut adalah “mencintai dan merawat sesama sebagai bagian dari jiwa organisasi.” Prinsip ini menjadi pijakan bahwa keberadaan organisasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa besar kepedulian dan manfaat yang mampu diberikan kepada manusia dan kehidupan.

Rakiman: Komitmen Bukan Sekadar Keteguhan, Pada sesi pertama, Rakiman Budi Sukamto mengajak seluruh pegiat sosial untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap diri. Menurutnya, setiap pribadi maupun lembaga pada hakikatnya merupakan amanah dari Gusti Allah yang harus dijunjung tinggi dan dipertanggungjawabkan.

Ia menyampaikan bahwa berbagai program sosial kemasyarakatan, mulai dari pertanian, kepemilikan lahan, edukasi dokter tanaman hingga program plifferan, pada dasarnya merupakan jalan pemberdayaan untuk mendorong masyarakat menuju peningkatan kesejahteraan bersama.

Namun, Rakiman menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak cukup hanya ditopang oleh program yang baik. Di balik program tersebut harus ada manusia yang memiliki jiwa pengabdian dan kepedulian.

Dalam pemaparannya, Rakiman memberikan pemaknaan khusus terhadap istilah komitmen. Baginya, komitmen bukan sekadar keteguhan dalam menjalankan tugas, tetapi memiliki dimensi yang lebih dalam, yakni berkaitan dengan akidah.

“Kalau seseorang memiliki komitmen yang bagus terhadap lembaganya, dapat dipastikan ia memiliki akidah yang kuat kepada Tuhannya,” tegas Rakiman.

Menurutnya, komitmen sejati tidak berhenti pada ucapan. Komitmen harus terlihat dalam sikap, tanggung jawab, kesetiaan, serta kesediaan untuk terus memberikan manfaat meskipun tidak selalu mendapatkan perhatian atau penghargaan.

Mencintai dan Merawat Sesama Harus Menjadi Jiwa Organisasi. Rakiman juga mengajak peserta menjadikan kepedulian sebagai jiwa dalam kehidupan organisasi. Ia menegaskan bahwa organisasi tidak cukup hanya dibangun dengan program-program hebat, tetapi membutuhkan hati yang peduli.

“Mencintai berarti melihat manusia dengan hati dan hadir ketika saling membutuhkan. Merawat berarti hadir untuk saling menjaga dan menguatkan. Memberdayakan berarti membantu sesama agar dapat tumbuh,” ujarnya.

Menurut Rakiman, perjalanan pengabdian yang dilakukan para pegiat sosial bukan semata-mata perjalanan tentang yayasan. Lebih jauh, perjalanan tersebut adalah tentang manusia dan kehidupan.

Karena itu, setiap orang diajak untuk mencintai apa yang telah dimiliki, merawat apa yang telah dipercayakan, serta memastikan tidak ada orang lain yang merasa berjalan sendirian.

“Yang kita cari bukan sekadar keberhasilan program, tetapi bagaimana keberadaan kita mampu memberi nilai manfaat kepada sesama,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rakiman juga menguraikan lima wujud cinta yang perlu diwujudkan dalam kehidupan organisasi, yakni:

Mendengarkan, yaitu memberikan ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pikiran, kebutuhan, maupun persoalannya dengan penuh perhatian.
Menghargai, yaitu menempatkan setiap orang sebagai pribadi yang memiliki nilai, potensi, dan peran penting.
Peduli, yakni memiliki kepekaan untuk hadir membantu tanpa harus selalu menunggu perintah.
Melayani, yaitu menempatkan diri sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat kepada orang lain.
Memberdayakan, yakni membantu sesama agar mampu tumbuh, berkembang, dan semakin mandiri.

Lima hal tersebut, menurut Rakiman, merupakan bentuk sederhana tetapi nyata dari cinta dalam kehidupan berorganisasi.

Rakiman menegaskan bahwa kepedulian sejati tidak lahir karena adanya instruksi, tetapi tumbuh dari kesadaran diri.

“Manifestasi tertinggi manusia adalah kesadaran diri,” ujarnya.

Kesadaran membuat seseorang tidak selalu menunggu perintah untuk bergerak. Ketika melihat persoalan, ia terdorong untuk bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”, bukan sekadar menunggu orang lain mengatakan apa yang harus dilakukan.

Dalam konteks tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak kehilangan jiwa dalam menjalankan aktivitas organisasi.

“Pribadi jangan kehilangan jiwa. Berorganisasi jangan kehilangan jiwa. Manusia jangan lepas dari jiwa,” pesannya.

Ia menambahkan, organisasi harus menjadi ruang yang mempertemukan raga, pikiran, hati, dan jiwa dalam satu tujuan pengabdian. Jangan Hanya Menjadi Bagian, Jadilah Jiwanya Organisasi

Salah satu pesan yang paling kuat disampaikan Rakiman adalah ajakan agar setiap pegiat sosial tidak berhenti pada posisi sebagai bagian dari organisasi.

“Jangan hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi jadilah jiwanya organisasi.”

Menurutnya, menjadi bagian dari organisasi dapat dimaknai sebatas hadir, menjalankan tugas, dan menyelesaikan pekerjaan. Namun menjadi jiwa organisasi berarti membawa nilai, kepedulian, ketulusan, dan komitmen dalam setiap langkah.

Organisasi membutuhkan manusia yang tidak hanya memiliki tangan untuk bekerja, tetapi juga hati untuk merasakan. Tidak hanya memiliki pikiran untuk menyusun program, tetapi juga jiwa untuk memahami mengapa program tersebut harus dijalankan.

Sebab, ketika jiwa mulai hilang, organisasi mungkin masih berjalan, tetapi kehilangan ruhnya. Program mungkin tetap terlaksana, tetapi sentuhan kemanusiaannya dapat memudar.

Karena itu, Rakiman mengingatkan agar kesibukan berorganisasi tidak membuat seseorang lupa pada alasan awal mengapa ia memilih jalan pengabdian.

“Raga boleh lelah, tetapi jiwa jangan menyerah. Program boleh berubah, tetapi nilai pengabdian jangan pernah hilang,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan pikiran karena kondisi pikiran turut memengaruhi kualitas kehidupan seseorang. Untuk itu, peserta diajak berhati-hati dalam berpikir, berucap, dan bertindak.

Dalam pemaparannya, Rakiman juga mengajak peserta memperluas makna “merawat”. Menurutnya, sasaran kepedulian tidak hanya masyarakat penerima manfaat, tetapi seluruh unsur yang menjadi bagian dari ekosistem organisasi.

Mereka yang harus dirawat meliputi relawan, pengurus dan tim, mitra serta donatur, hingga masyarakat luas.

Menurutnya, organisasi akan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat apabila orang-orang yang berada di dalamnya juga merasa dihargai, diperhatikan, dikuatkan, dan dirawat.

Dengan demikian, budaya saling menjaga tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan organisasi. Satu hati mungkin menyalakan kebaikan tapi banyak hati yang bersatu dapat mengubah kehidupan.

Ikrar Relawan, Menyatukan Niat dan Langkah, Sesi yang menjadi salah satu puncak kegiatan adalah ketika Rakiman mengajak seluruh peserta berdiri dan bersama-sama mengucapkan Ikrar Relawan.

IKRAR RELAWAN

Kami bukan siapa-siapa
Hanya insan biasa yang terpanggil
Untuk mengabdi, untuk memberi
Demi senyum umat yang menanti

Tangan kami untuk membantu
Hati kami untuk mengasihi
Waktu kami untuk mengabdi
Nama Yayasan kami jaga di bumi

Ikhlas kami jadikan bekal
Kerja sama kami jadikan modal
Komitmen kami adalah nyala
Sampai titik akhir pengabdian InsyaAllah

Satu Niat, Satu Langkah untuk Umat.

Ikrar tersebut menjadi simbol peneguhan komitmen para relawan untuk menjaga nama baik yayasan, mengedepankan keikhlasan, membangun kerja sama, serta terus menjaga semangat pengabdian.

Banon Prakoso Hadirkan Sesi Interaktif

Sementara itu, sesi kedua diisi oleh Banon Prakoso dengan pendekatan yang lebih interaktif. Banon menyapa peserta secara acak dan memberikan sejumlah pertanyaan mengenai berbagai program yang saat ini sedang menjadi perhatian.

Metode tersebut membuat suasana pertemuan menjadi lebih hidup. Peserta diajak mengingat kembali berbagai program sekaligus menguji sejauh mana pemahaman mereka terhadap program yang sedang dijalankan.

Banon tidak hanya mengajak peserta menghafal program, tetapi juga memahami makna dan tujuan di balik setiap program sehingga keberadaan program benar-benar dapat dipahami sebagai instrumen untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Pada bagian akhir pemaparannya, Banon kembali menekankan makna kesadaran diri sebagai manifestasi tertinggi manusia.

Kesadaran diri, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi seseorang dalam menjalankan peran di tengah organisasi maupun masyarakat. Orang yang memiliki kesadaran tidak perlu selalu menunggu diingatkan. Ia mampu mengenali tanggung jawabnya, membaca kebutuhan lingkungan, melakukan evaluasi terhadap dirinya, dan mengambil peran secara sadar.

Dengan kesadaran tersebut, aktivitas organisasi tidak lagi dijalankan semata-mata karena kewajiban, tetapi karena adanya pemahaman terhadap makna pengabdian.

Menghidupkan Kembali Jiwa Pengabdian

Pertemuan para pegiat sosial se-Pekalongan Raya di Pemalang tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa setiap program, tugas, dan aktivitas pengabdian harus memiliki jiwa.

Organisasi membutuhkan manusia yang bekerja, tetapi kehidupan membutuhkan manusia yang peduli.

Karena itu, pesan utama pertemuan tersebut menjadi relevan untuk terus dibawa dalam perjalanan organisasi: jangan hanya menjadi bagian dari organisasi, jadilah jiwanya.

Jadilah tangan yang membantu, hati yang mengasihi, pikiran yang jernih, dan langkah yang menghadirkan manfaat.

Sebab pada akhirnya, pengabdian bukan semata tentang seberapa lama nama seseorang tercatat dalam sebuah organisasi, melainkan seberapa banyak kebaikan dan manfaat yang tumbuh karena kehadirannya.

( AS Saeful Husna TP)

SendShare3
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Mendeley Desktop Incorrect Username or Password ➔ Solusi Cepat

Desember 13, 2024
Admin Media Sosial Berperan Penting Jaga Kondusifitas Pilkada 2024

Admin Media Sosial Berperan Penting Jaga Kondusifitas Pilkada 2024

Oktober 28, 2024
DOA DEKLARASI PROPHETIK DAN TIUP SANGKAKALA WARNAI PERINGATAN 1 SYURO 1448 H DI AL-ZAYTUN

DOA DEKLARASI PROPHETIK DAN TIUP SANGKAKALA WARNAI PERINGATAN 1 SYURO 1448 H DI AL-ZAYTUN

Juni 18, 2026

Hello world!

1
Nobar Debat cawapres: di masjid An nur sambil makan Rendang

Nobar Debat cawapres: di masjid An nur sambil makan Rendang

0
BERGURU ILMU KE OMAH TANI BATANG

BERGURU ILMU KE OMAH TANI BATANG

0
Capaian Kinerja Lucky Hakim-Syaefudin Semester I 2026: Genjot Infrastruktur hingga Cetak Prestasi Nasional Menuju Indramayu REANG

Capaian Kinerja Lucky Hakim-Syaefudin Semester I 2026: Genjot Infrastruktur hingga Cetak Prestasi Nasional Menuju Indramayu REANG

Agustus 26, 2026
Pemkab Sleman Gandeng BPJS Ketenagakerjaan Lindungi Mahasiswa Magang Sleman Pintar

Pemkab Sleman Gandeng BPJS Ketenagakerjaan Lindungi Mahasiswa Magang Sleman Pintar

Agustus 26, 2026
emkab Sleman Beri Penghargaan Lunas Awal PBB-P2 2026, Realisasi Pajak Capai 95 Persen

emkab Sleman Beri Penghargaan Lunas Awal PBB-P2 2026, Realisasi Pajak Capai 95 Persen

Agustus 26, 2026
Teras Pantura News

Copyright © 2023 Teras Pantura News.

Navigate Site

  • Home
  • Berita
  • Budaya

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Politik
  • Pendidikan
  • Pariwisata

Copyright © 2023 Teras Pantura News.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In